Jumat, 2 Oktober 2026

Mengenal Ciri Psikologis Orang yang Selalu Mengejar Kebutuhan Ekonomi, Bukan Sekadar Soal Ambisi

Photo Author
Anang Agus Faisal, Paliwara.com
- Kamis, 1 Oktober 2026 | 14:37 WIB
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

Blitar, Paliwara– Kehidupan ekonomi menjadi salah satu persoalan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kebutuhan makan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan hingga kebutuhan keluarga membuat seseorang harus bekerja dan mencari penghasilan.

Namun, pada sebagian orang, aktivitas mencari uang seolah tidak pernah berhenti. Setelah memperoleh satu target pendapatan, muncul target berikutnya. Waktu istirahat berkurang, pekerjaan terus dikejar dan pikiran tetap dipenuhi persoalan ekonomi meskipun kebutuhan utama sebenarnya telah terpenuhi.

Fenomena tersebut menarik dilihat dari sisi psikologis. Orang yang terus mengejar kebutuhan ekonomi tidak selalu berarti materialistis atau hanya memikirkan uang. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh tanggung jawab keluarga, pengalaman hidup, kondisi ekonomi, kebiasaan, rasa aman maupun kekhawatiran terhadap masa depan.

1. Sulit Merasa Cukup

Salah satu ciri yang dapat terlihat adalah seseorang sulit merasa cukup terhadap kondisi ekonominya.

Ketika penghasilan meningkat, kebutuhan dan targetnya juga ikut meningkat. Jika sebelumnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar, setelah kondisi membaik seseorang mulai mengejar tabungan, rumah, kendaraan, pendidikan anak atau investasi.

Siklus tersebut sebenarnya tidak selalu buruk. Memiliki target ekonomi dapat menjadi motivasi untuk bekerja. Namun, persoalan dapat muncul ketika seseorang merasa tidak pernah puas dan selalu menganggap dirinya belum memiliki cukup uang.

Akibatnya, pencapaian ekonomi yang sebenarnya sudah cukup tidak memberikan rasa tenang.

2. Banyak Memikirkan Masa Depan

Orang yang memiliki orientasi kuat terhadap keamanan ekonomi sering kali memikirkan masa depan.

Pertanyaan seperti bagaimana jika kehilangan pekerjaan, bagaimana biaya pendidikan anak, bagaimana menghadapi kebutuhan kesehatan atau bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga ketika usia semakin tua dapat terus muncul dalam pikiran.

Perencanaan keuangan tentu merupakan hal yang positif. Tetapi jika kekhawatiran tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi itu dapat menjadi sumber tekanan psikologis.

Karena itu, perlu dibedakan antara perencanaan keuangan dengan kekhawatiran ekonomi yang berlebihan.

3. Sulit Beristirahat

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Anang Agus Faisal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X