Blitar, Paliwara– Kehidupan ekonomi menjadi salah satu persoalan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kebutuhan makan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan hingga kebutuhan keluarga membuat seseorang harus bekerja dan mencari penghasilan.
Namun, pada sebagian orang, aktivitas mencari uang seolah tidak pernah berhenti. Setelah memperoleh satu target pendapatan, muncul target berikutnya. Waktu istirahat berkurang, pekerjaan terus dikejar dan pikiran tetap dipenuhi persoalan ekonomi meskipun kebutuhan utama sebenarnya telah terpenuhi.
Fenomena tersebut menarik dilihat dari sisi psikologis. Orang yang terus mengejar kebutuhan ekonomi tidak selalu berarti materialistis atau hanya memikirkan uang. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh tanggung jawab keluarga, pengalaman hidup, kondisi ekonomi, kebiasaan, rasa aman maupun kekhawatiran terhadap masa depan.
1. Sulit Merasa Cukup
Salah satu ciri yang dapat terlihat adalah seseorang sulit merasa cukup terhadap kondisi ekonominya.
Ketika penghasilan meningkat, kebutuhan dan targetnya juga ikut meningkat. Jika sebelumnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar, setelah kondisi membaik seseorang mulai mengejar tabungan, rumah, kendaraan, pendidikan anak atau investasi.
Siklus tersebut sebenarnya tidak selalu buruk. Memiliki target ekonomi dapat menjadi motivasi untuk bekerja. Namun, persoalan dapat muncul ketika seseorang merasa tidak pernah puas dan selalu menganggap dirinya belum memiliki cukup uang.
Akibatnya, pencapaian ekonomi yang sebenarnya sudah cukup tidak memberikan rasa tenang.
2. Banyak Memikirkan Masa Depan
Orang yang memiliki orientasi kuat terhadap keamanan ekonomi sering kali memikirkan masa depan.
Pertanyaan seperti bagaimana jika kehilangan pekerjaan, bagaimana biaya pendidikan anak, bagaimana menghadapi kebutuhan kesehatan atau bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga ketika usia semakin tua dapat terus muncul dalam pikiran.
Perencanaan keuangan tentu merupakan hal yang positif. Tetapi jika kekhawatiran tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi itu dapat menjadi sumber tekanan psikologis.
Karena itu, perlu dibedakan antara perencanaan keuangan dengan kekhawatiran ekonomi yang berlebihan.
3. Sulit Beristirahat
Artikel Terkait
Polres Blitar Kota Bongkar 5 Kasus Narkoba Sepanjang September, 5 Tersangka Diamankan
Harga Bawang Putih Blitar Hari Ini, Selisihnya dengan Tulungagung Bikin Penasaran
Harga Cabai Merah Besar Jawa Timur Beragam, Blitar Jauh di Bawah Rata-rata
Bupati Blitar Tinjau Irpom di Sanankulon, Dorong Petani Rawat Irigasi dan Perkuat Ketahanan Pangan
Dorong Produktivitas Petani, Bupati Blitar Tanam Cabai Rawit di Desa Sleman
Di Balik Sifat Keras Kamis Legi, Ternyata Ada Karakter yang Bikin Banyak Orang Suka
Kamis Legi Disebut Punya Jalan Rezeki yang Tak Biasa, Jodohnya Ternyata Tak Boleh Sembarangan
Wujud Penghargaan Negara Atas Dedikasi Prajurit, 64 Personel Kodim 0808/Blitar Resmi Naik Pangkat
Mengenal Kaum Rebahan di Era Digital, Ketika Kenyamanan Bisa Membuat Orang Enggan Bergerak
Hari Kesaktian Pancasila, Wawali Blitar Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kesatuan