Jumat, 2 Oktober 2026

Mengenal Kaum Rebahan di Era Digital, Ketika Kenyamanan Bisa Membuat Orang Enggan Bergerak

Photo Author
Anang Agus Faisal, Paliwara.com
- Kamis, 1 Oktober 2026 | 14:25 WIB
Ilustrasi kaum rebahan
Ilustrasi kaum rebahan

Blitar, Paliwara – Istilah kaum rebahan semakin sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Sebutan tersebut biasanya digunakan untuk menggambarkan orang yang gemar menghabiskan waktu dengan berbaring atau bersantai, sambil bermain telepon seluler, menonton film, bermain gim, maupun sekadar berselancar di media sosial.

Istilah kaum rebahan pada awalnya lebih banyak digunakan sebagai ungkapan humor di media sosial. Seseorang yang merasa lelah setelah menjalani aktivitas sehari-hari, misalnya, sering mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi “kaum rebahan” dan menikmati waktu di tempat tidur.

Namun, seiring perkembangan teknologi digital, istilah tersebut berkembang menjadi gambaran mengenai gaya hidup sebagian masyarakat yang semakin banyak menghabiskan waktu dalam kondisi minim aktivitas fisik.

Kemudahan teknologi menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat dapat melakukan banyak hal tanpa harus meninggalkan tempat duduk atau tempat tidur. Berbelanja, memesan makanan, membayar tagihan, menonton hiburan hingga berkomunikasi dengan orang lain kini dapat dilakukan hanya melalui telepon pintar.

Kondisi tersebut tentu memberikan banyak kemudahan. Tetapi di sisi lain, kemudahan tersebut juga dapat membuat seseorang semakin jarang bergerak apabila tidak diimbangi dengan aktivitas fisik.

Rebahan Tidak Selalu Berarti Malas

Meski sering dikaitkan dengan kemalasan, menjadi kaum rebahan tidak selalu berarti seseorang malas.

Tubuh manusia membutuhkan istirahat setelah melakukan berbagai aktivitas. Tidur, berbaring, menonton film, membaca buku atau sekadar menikmati suasana tenang dapat menjadi bagian dari aktivitas untuk mengembalikan energi.

Persoalan mulai muncul ketika rebahan berubah dari aktivitas istirahat menjadi kebiasaan yang mendominasi sebagian besar waktu seseorang.

Misalnya, seseorang sebenarnya memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun pekerjaan tersebut terus ditunda karena lebih memilih bermain telepon seluler atau menonton video. Waktu yang semula hanya digunakan untuk bersantai akhirnya menjadi berjam-jam.

Kebiasaan menunda pekerjaan seperti itu dapat membuat aktivitas sehari-hari menjadi tidak teratur. Pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan lebih awal justru menumpuk dan harus dikerjakan dalam waktu yang terbatas.

Karena itu, yang menjadi persoalan bukan aktivitas rebahannya, melainkan bagaimana seseorang mengatur waktu antara bekerja, beraktivitas, bersosialisasi dan beristirahat.

Media Sosial Membuat Waktu Terasa Cepat Berlalu

Telepon pintar menjadi salah satu benda yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini. Berbagai aplikasi media sosial menawarkan konten yang terus diperbarui sehingga pengguna memiliki alasan untuk terus membuka layar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Anang Agus Faisal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X