Blitar, Paliwara – Istilah kaum rebahan semakin sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Sebutan tersebut biasanya digunakan untuk menggambarkan orang yang gemar menghabiskan waktu dengan berbaring atau bersantai, sambil bermain telepon seluler, menonton film, bermain gim, maupun sekadar berselancar di media sosial.
Istilah kaum rebahan pada awalnya lebih banyak digunakan sebagai ungkapan humor di media sosial. Seseorang yang merasa lelah setelah menjalani aktivitas sehari-hari, misalnya, sering mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi “kaum rebahan” dan menikmati waktu di tempat tidur.
Namun, seiring perkembangan teknologi digital, istilah tersebut berkembang menjadi gambaran mengenai gaya hidup sebagian masyarakat yang semakin banyak menghabiskan waktu dalam kondisi minim aktivitas fisik.
Kemudahan teknologi menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat dapat melakukan banyak hal tanpa harus meninggalkan tempat duduk atau tempat tidur. Berbelanja, memesan makanan, membayar tagihan, menonton hiburan hingga berkomunikasi dengan orang lain kini dapat dilakukan hanya melalui telepon pintar.
Kondisi tersebut tentu memberikan banyak kemudahan. Tetapi di sisi lain, kemudahan tersebut juga dapat membuat seseorang semakin jarang bergerak apabila tidak diimbangi dengan aktivitas fisik.
Rebahan Tidak Selalu Berarti Malas
Meski sering dikaitkan dengan kemalasan, menjadi kaum rebahan tidak selalu berarti seseorang malas.
Tubuh manusia membutuhkan istirahat setelah melakukan berbagai aktivitas. Tidur, berbaring, menonton film, membaca buku atau sekadar menikmati suasana tenang dapat menjadi bagian dari aktivitas untuk mengembalikan energi.
Persoalan mulai muncul ketika rebahan berubah dari aktivitas istirahat menjadi kebiasaan yang mendominasi sebagian besar waktu seseorang.
Misalnya, seseorang sebenarnya memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun pekerjaan tersebut terus ditunda karena lebih memilih bermain telepon seluler atau menonton video. Waktu yang semula hanya digunakan untuk bersantai akhirnya menjadi berjam-jam.
Kebiasaan menunda pekerjaan seperti itu dapat membuat aktivitas sehari-hari menjadi tidak teratur. Pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan lebih awal justru menumpuk dan harus dikerjakan dalam waktu yang terbatas.
Karena itu, yang menjadi persoalan bukan aktivitas rebahannya, melainkan bagaimana seseorang mengatur waktu antara bekerja, beraktivitas, bersosialisasi dan beristirahat.
Media Sosial Membuat Waktu Terasa Cepat Berlalu
Telepon pintar menjadi salah satu benda yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini. Berbagai aplikasi media sosial menawarkan konten yang terus diperbarui sehingga pengguna memiliki alasan untuk terus membuka layar.
Artikel Terkait
Cegah Stunting Sejak Dini, Babinsa Posramil Kepanjenkidul Dampingi Terapi Renang Balita di Posyandu Sartika II
Lahan Kosong Disulap Jadi Ladang Jagung, Polsek Wlingi Gandeng Pemdes dan Petani Dukung Ketahanan Pangan
Polres Blitar Kota Bongkar 5 Kasus Narkoba Sepanjang September, 5 Tersangka Diamankan
Harga Bawang Putih Blitar Hari Ini, Selisihnya dengan Tulungagung Bikin Penasaran
Harga Cabai Merah Besar Jawa Timur Beragam, Blitar Jauh di Bawah Rata-rata
Bupati Blitar Tinjau Irpom di Sanankulon, Dorong Petani Rawat Irigasi dan Perkuat Ketahanan Pangan
Dorong Produktivitas Petani, Bupati Blitar Tanam Cabai Rawit di Desa Sleman
Di Balik Sifat Keras Kamis Legi, Ternyata Ada Karakter yang Bikin Banyak Orang Suka
Kamis Legi Disebut Punya Jalan Rezeki yang Tak Biasa, Jodohnya Ternyata Tak Boleh Sembarangan
Wujud Penghargaan Negara Atas Dedikasi Prajurit, 64 Personel Kodim 0808/Blitar Resmi Naik Pangkat