Blitar, Paliwara.com – Anggapan bahwa perempuan lebih cerewet dibandingkan laki-laki sudah lama menjadi stereotip yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan kerap dianggap lebih banyak berbicara, senang bercerita dan lebih mudah mengungkapkan perasaan. Sebaliknya, laki-laki sering digambarkan lebih pendiam dan berbicara seperlunya.
Namun, jika dilihat dari perspektif psikologi, anggapan tersebut ternyata tidak sesederhana itu. Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jumlah bicara antara laki-laki dan perempuan relatif kecil, sementara kepribadian, lingkungan, budaya, hubungan sosial dan situasi percakapan justru dapat memberikan pengaruh besar.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2007 terhadap 396 peserta menemukan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama menggunakan sekitar 16.000 kata per hari. Temuan tersebut sekaligus menantang anggapan populer bahwa perempuan berbicara jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Penelitian yang lebih besar dan diterbitkan pada 2025 memberikan gambaran yang lebih kompleks. Penelitian tersebut menganalisis 2.197 peserta dari 22 sampel dengan lebih dari 631.000 rekaman suara. Rata-rata laki-laki menggunakan sekitar 11.950 kata per hari, sedangkan perempuan sekitar 13.349 kata. Namun, variasi antarindividu sangat besar, sehingga angka tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua perempuan lebih banyak berbicara daripada laki-laki.
Perbedaan Gaya Komunikasi
Dalam psikologi, komunikasi tidak hanya diukur berdasarkan jumlah kata. Tujuan berbicara, siapa lawan bicara dan situasi percakapan juga menjadi faktor penting.
Meta-analisis terhadap berbagai penelitian menemukan bahwa perbedaan gender dalam perilaku bahasa secara umum relatif kecil. Dalam beberapa situasi, perempuan sedikit lebih sering menggunakan komunikasi yang bersifat membangun hubungan, memberikan dukungan dan menjaga kedekatan sosial. Sementara itu, laki-laki dalam beberapa konteks lebih sering menggunakan komunikasi yang bersifat asertif. Namun, perbedaan tersebut tidak berlaku secara mutlak untuk setiap individu.
Hal ini menjelaskan mengapa perempuan terkadang terlihat lebih banyak berbicara dalam lingkungan keluarga atau pertemanan. Percakapan bagi sebagian orang bukan hanya sarana menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi cara untuk membangun hubungan, menunjukkan perhatian dan memahami perasaan orang lain.
Karena itu, perempuan yang lebih aktif dalam percakapan belum tentu dapat disebut “cerewet”. Bisa saja komunikasi tersebut merupakan bagian dari cara mereka menjaga hubungan sosial.
Laki-Laki Pendiam Bukan Berarti Tidak Peduli
Sebaliknya, laki-laki yang lebih sedikit berbicara juga tidak otomatis berarti tidak peduli atau tidak memiliki banyak hal untuk disampaikan.
Setiap individu mempunyai gaya komunikasi yang berbeda. Ada orang yang lebih nyaman mengungkapkan pikiran melalui percakapan panjang, sementara yang lain lebih suka berpikir terlebih dahulu dan berbicara ketika merasa perlu.
Faktor kepribadian juga sangat menentukan. Ada perempuan yang pendiam dan ada laki-laki yang sangat banyak berbicara. Bahkan, variasi antara individu dalam kelompok yang sama dapat jauh lebih besar dibandingkan perbedaan rata-rata antara laki-laki dan perempuan.
Penelitian terbaru mengenai jumlah kata per hari juga menunjukkan variasi yang sangat besar antarindividu. Dengan demikian, angka rata-rata kelompok tidak dapat digunakan untuk memprediksi perilaku seseorang secara akurat.
Artikel Terkait
Polisi Masuk Sekolah, Pelajar SDN 01 Kaligambir Diingatkan Bahaya Bullying dan Kenakalan Remaja
Rapat Paripurna DPRD Blitar, Bupati Rijanto Dorong APBD 2027 Lebih Efektif dan Transparan
Menuju Indonesia Emas 2045, Nurhadi Dorong Blitar Tekan Stunting
Bupati Blitar Tekankan Pariwisata dan Irigasi Berkelanjutan
Polres Blitar Edukasi Pelajar SDN 5 Selopuro tentang Bahaya Bullying
Misteri Buaya Ramree: Kisah Mengerikan Tentara Jepang di Tengah Perang Dunia II
Korban Kapal Virgo Transport Tiba di Rumah Duka, Polsek Gandusari Sampaikan Belasungkawa
Kodim 0808/Blitar Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Sumberagung Panggungrejo
Obesitas Bukan Sekadar Masalah Berat Badan, Ancaman Penyakit Serius Mengintai
Istidraj, Ketika Limpahan Kenikmatan Justru Bisa Menjadi Ujian yang Menjauhkan dari Allah