Rabu, 30 September 2026

Istidraj, Ketika Limpahan Kenikmatan Justru Bisa Menjadi Ujian yang Menjauhkan dari Allah

Photo Author
Anang Agus Faisal, Paliwara.com
- Selasa, 29 September 2026 | 14:01 WIB
Ilustrasi neraka
Ilustrasi neraka

Blitar, Paliwara.com – Mendapatkan rezeki melimpah, tubuh yang sehat, usaha semakin lancar, karier meningkat, keluarga berkecukupan hingga berbagai kesenangan dunia tentu menjadi sesuatu yang diharapkan banyak orang. Namun dalam perspektif Islam, berbagai kenikmatan tersebut tidak selalu harus dimaknai sebagai tanda seseorang semakin dekat dan dicintai Allah SWT.

Ada konsep yang dikenal dengan istilah istidraj, yakni keadaan ketika seseorang terus mendapatkan kenikmatan atau kelapangan dunia, sementara pada saat yang sama ia tetap berada dalam kemaksiatan, mengabaikan peringatan dan semakin jauh dari ketaatan kepada Allah SWT.

Konsep tersebut antara lain dijelaskan dalam Al-Qur'an melalui Surah Al-An'am ayat 44. Ayat tersebut menggambarkan keadaan suatu kaum yang telah melupakan peringatan Allah, kemudian dibukakan bagi mereka berbagai pintu kesenangan. Ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan, datang ketetapan Allah secara tiba-tiba.

Istidraj juga disebut dalam Surah Al-Qalam ayat 44-45. Dalam ayat tersebut terdapat peringatan bahwa orang-orang yang mendustakan Al-Qur'an dapat ditarik secara berangsur-angsur menuju kebinasaan dari arah yang tidak mereka sadari. Allah juga menyatakan memberikan tenggang waktu kepada mereka.

Nikmat Tidak Selalu Berarti Ridha

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang mengukur keberhasilan hanya berdasarkan apa yang terlihat secara lahiriah.

Ketika usaha berkembang, rumah semakin besar, kendaraan bertambah, rekening meningkat atau jabatan semakin tinggi, kondisi tersebut sering dianggap sebagai bukti bahwa kehidupan sedang berada dalam keberuntungan.

Sebaliknya, kesulitan ekonomi, sakit atau kegagalan terkadang langsung dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sedang mendapatkan hukuman.

Padahal, dalam ajaran Islam, ukuran tersebut tidak sesederhana itu.

Al-Qur'an dalam Surah Ar-Ra'd ayat 26 menyebut bahwa Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Ayat tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang sementara dibandingkan kehidupan akhirat.

Karena itu, kelapangan rezeki perlu disikapi dengan rasa syukur dan introspeksi. Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya seberapa banyak kenikmatan yang diperoleh, tetapi apakah kenikmatan tersebut membuat seseorang semakin bersyukur dan taat atau justru semakin lalai.

Istidraj dan Kemaksiatan

Istidraj tidak dapat dipahami sekadar sebagai "orang yang banyak harta berarti sedang dijebak Allah". Pemahaman seperti itu terlalu sederhana.

Yang menjadi perhatian adalah kondisi ketika seseorang terus-menerus melakukan kemaksiatan, mengabaikan kewajiban agama dan tidak mau memperbaiki diri, tetapi justru mendapatkan berbagai kesenangan yang membuatnya semakin merasa aman dari akibat perbuatannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Anang Agus Faisal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X