Rabu, 30 September 2026

Istidraj, Ketika Limpahan Kenikmatan Justru Bisa Menjadi Ujian yang Menjauhkan dari Allah

Photo Author
Anang Agus Faisal, Paliwara.com
- Selasa, 29 September 2026 | 14:01 WIB
Ilustrasi neraka
Ilustrasi neraka

Islam mengajarkan agar setiap kenikmatan disambut dengan rasa syukur.

Ketika memperoleh rezeki, seseorang dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membantu orang lain dan memperbanyak amal kebaikan.

Ketika memperoleh kesehatan, waktu dan tenaga dapat digunakan untuk beribadah serta melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Begitu pula ketika memperoleh jabatan atau kedudukan, kekuasaan tersebut dapat digunakan untuk menjalankan amanah dengan adil.

Dengan demikian, keberadaan harta dan kenikmatan dunia bukanlah persoalan utama. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memperlakukannya.

Jika kekayaan membuat seseorang semakin dermawan, kesehatan membuatnya semakin rajin beribadah, dan keberhasilan membuatnya semakin rendah hati, maka kenikmatan tersebut dapat menjadi sarana kebaikan.

Sebaliknya, apabila kenikmatan justru membuat seseorang semakin jauh dari Allah, merasa tidak membutuhkan-Nya dan terus melakukan dosa, maka kondisi tersebut menjadi peringatan yang perlu direnungkan.

Tanda yang Perlu Menjadi Bahan Introspeksi

Daripada sibuk menilai kehidupan orang lain, konsep istidraj dapat dijadikan bahan introspeksi diri.

Pertanyaan sederhana dapat diajukan kepada diri sendiri: apakah rezeki yang bertambah membuat ibadah semakin baik? Apakah kesehatan membuat seseorang semakin banyak melakukan kebaikan? Apakah kesuksesan membuat hati semakin rendah hati? Apakah kekayaan mendorong seseorang berbagi dengan sesama?

Jika jawabannya justru sebaliknya, kondisi tersebut layak menjadi bahan evaluasi.

Sebab, masalah terbesar bukan selalu kehilangan harta atau berkurangnya kesenangan dunia. Salah satu hal yang perlu dikhawatirkan adalah ketika seseorang kehilangan kepekaan terhadap dosa dan tidak lagi merasa perlu kembali kepada Allah.

Dalam konteks inilah pembahasan tentang istidraj menjadi relevan. Kenikmatan dunia tidak seharusnya membuat manusia terlena dan melupakan bahwa kehidupan dunia memiliki batas.

Jangan Terlena oleh Dunia

Kehidupan dunia dalam perspektif Al-Qur'an bersifat sementara. Harta, jabatan, kesehatan, popularitas dan berbagai bentuk kesenangan pada akhirnya akan ditinggalkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Anang Agus Faisal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X