Senin, 5 Oktober 2026

Nderes Kelapa, Tradisi Petani Mengubah Tetesan Nira Menjadi Gula Merah

Photo Author
Anang Agus Faisal, Paliwara.com
- Minggu, 4 Oktober 2026 | 12:54 WIB
Ilustrasi penderes kelapa
Ilustrasi penderes kelapa

Untuk membuat gula merah, nira biasanya dimasak dalam wadah besar dengan api tertentu hingga kandungan airnya berkurang dan cairan berubah menjadi lebih kental.

Setelah mencapai tingkat kekentalan yang sesuai, cairan gula kemudian dicetak dan dibiarkan hingga mengeras.

Dari proses panjang tersebut lahirlah gula kelapa yang selama ini digunakan masyarakat sebagai bahan makanan dan pemanis berbagai kuliner tradisional.

Pekerjaan yang Sarat Filosofi

Nderes kelapa juga menyimpan filosofi tentang kehidupan. Untuk mendapatkan sesuatu yang manis, seorang penderes harus bersedia menjalani proses yang tidak mudah.

Ia harus memanjat tinggi, bekerja secara rutin, menjaga pohon dan menunggu tetesan nira terkumpul.

Tidak ada hasil besar yang diperoleh secara instan.

Setiap tetes nira merupakan hasil dari ketekunan. Semakin telaten seorang penderes merawat pohon dan melakukan penyadapan, semakin besar peluang memperoleh hasil yang baik.

Tradisi nderes juga menjadi gambaran bagaimana masyarakat pedesaan memanfaatkan alam tanpa harus mengabaikan keberlangsungan sumber daya yang dimiliki.

Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Kini, pekerjaan sebagai penderes kelapa mungkin tidak sepopuler pekerjaan modern lainnya. Namun bagi sebagian masyarakat desa, keterampilan tersebut tetap memiliki nilai ekonomi dan budaya.

Keahlian memanjat pohon, mengenali bunga kelapa, melakukan penyadapan hingga mengolah nira menjadi gula merupakan pengetahuan tradisional yang tidak selalu mudah dipelajari.

Karena itu, nderes kelapa bukan hanya cerita tentang mencari nafkah. Di dalamnya terdapat ketekunan, keberanian, keterampilan dan warisan pengetahuan masyarakat pedesaan.

Di balik manisnya gula kelapa yang sampai ke meja makan, terdapat perjuangan seorang penderes yang setiap hari memanjat pohon tinggi demi mengumpulkan tetes demi tetes nira.

Sebab bagi seorang penderes, rasa manis tidak datang begitu saja. Ada keringat, keberanian dan kesabaran di balik setiap tetesnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Anang Agus Faisal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X