Risiko Kanker dan Gangguan Persendian
Obesitas juga berkaitan dengan sejumlah jenis kanker. WHO menyebut kondisi tersebut berhubungan dengan beberapa kanker, termasuk kanker endometrium, payudara, usus besar, hati, kandung empedu, ginjal, ovarium, dan prostat.
Selain penyakit metabolik dan kanker, berat badan berlebih juga dapat memengaruhi sistem gerak. Beban tambahan pada tubuh dapat meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal, termasuk osteoartritis.
Persendian yang menopang berat badan seperti lutut dan pinggul menjadi bagian tubuh yang sangat rentan mengalami tekanan. Dampaknya dapat berupa nyeri, keterbatasan gerak dan penurunan kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari. CDC memasukkan osteoartritis, nyeri tubuh dan gangguan fungsi fisik sebagai kondisi yang berkaitan dengan overweight dan obesitas.
Gangguan tidur juga menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Obesitas berkaitan dengan sleep apnea dan gangguan pernapasan. Kondisi tersebut dapat mengganggu kualitas tidur dan pada sebagian orang membutuhkan pemeriksaan serta penanganan medis.
Anak dan Remaja Juga Tidak Luput
Ancaman obesitas tidak berhenti pada orang dewasa. Anak-anak dan remaja yang mengalami obesitas menghadapi risiko kesehatan yang dapat terbawa hingga usia dewasa.
WHO menyebut anak dengan obesitas memiliki kemungkinan lebih besar tetap mengalami obesitas ketika dewasa. Mereka juga berisiko mengalami penyakit tidak menular, seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular, pada usia yang lebih muda.
Dampaknya juga tidak hanya bersifat fisik. Obesitas pada anak dan remaja dapat berkaitan dengan kualitas hidup serta persoalan psikososial. WHO mencatat stigma, diskriminasi dan perundungan atau bullying dapat memperburuk dampak yang dialami anak dengan obesitas.
Karena itu, penanganan obesitas pada anak perlu dilakukan secara hati-hati. Fokusnya bukan sekadar menurunkan angka pada timbangan, melainkan membangun kebiasaan makan, aktivitas fisik, tidur dan perilaku hidup sehat sesuai kebutuhan pertumbuhan anak.
Mengapa Obesitas Terjadi?
Obesitas sering kali dianggap sederhana sebagai akibat terlalu banyak makan dan kurang bergerak. Namun, WHO menegaskan bahwa penyebab obesitas jauh lebih kompleks.
Faktor genetik, lingkungan, perilaku, kondisi sosial, akses terhadap makanan sehat, aktivitas fisik dan perubahan pola konsumsi dapat saling berinteraksi. Lingkungan yang membuat makanan tinggi energi, gula, lemak atau garam mudah diperoleh, sementara kesempatan melakukan aktivitas fisik terbatas, juga dapat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko obesitas.
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI juga menyoroti istilah obesogenic environment, yaitu lingkungan yang mendorong konsumsi energi berlebihan sekaligus membatasi pengeluaran energi. Perspektif ini menunjukkan bahwa persoalan obesitas tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada individu.
Dengan demikian, pencegahan obesitas membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Keluarga, sekolah, lingkungan kerja, fasilitas kesehatan, pemerintah dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pola hidup sehat.
Artikel Terkait
Polisi Masuk Sekolah, Pelajar SDN 01 Kaligambir Diingatkan Bahaya Bullying dan Kenakalan Remaja
Pemilik Weton Selasa Wage Disebut Berhati Mulia, Tapi Ada Sifat yang Perlu Diwaspadai
Rapat Paripurna DPRD Blitar, Bupati Rijanto Dorong APBD 2027 Lebih Efektif dan Transparan
Menuju Indonesia Emas 2045, Nurhadi Dorong Blitar Tekan Stunting
Bupati Blitar Tekankan Pariwisata dan Irigasi Berkelanjutan
Polres Blitar Edukasi Pelajar SDN 5 Selopuro tentang Bahaya Bullying
Misteri Buaya Ramree: Kisah Mengerikan Tentara Jepang di Tengah Perang Dunia II
Korban Kapal Virgo Transport Tiba di Rumah Duka, Polsek Gandusari Sampaikan Belasungkawa
Kodim 0808/Blitar Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Sumberagung Panggungrejo