Fenomena kaum rebahan tidak berarti teknologi harus dianggap sebagai penyebab utama kemalasan masyarakat.
Teknologi justru memberikan banyak manfaat. Telepon pintar dapat digunakan untuk bekerja, belajar, menjalankan bisnis, mencari informasi, berkomunikasi dan mengembangkan berbagai aktivitas produktif.
Persoalannya lebih banyak berkaitan dengan bagaimana seseorang menggunakan teknologi tersebut.
Satu perangkat yang sama dapat digunakan untuk bekerja selama beberapa jam, tetapi juga dapat digunakan untuk menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas.
Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan mengatur penggunaan teknologi. Waktu untuk menikmati hiburan tetap diperlukan, tetapi sebaiknya tidak sampai mengganggu pekerjaan, aktivitas fisik, hubungan sosial dan tanggung jawab sehari-hari.
Bukan Soal Tidak Boleh Rebahan
Pada akhirnya, istilah kaum rebahan tidak harus selalu dimaknai secara negatif.
Setiap orang membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Setelah menjalani pekerjaan yang melelahkan, berbaring di tempat tidur sambil menikmati hiburan merupakan hal yang wajar.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika rebahan menjadi kebiasaan berlebihan hingga membuat seseorang kehilangan waktu produktif dan semakin jarang bergerak.
Kuncinya adalah keseimbangan. Ada saatnya seseorang harus bekerja, ada waktu untuk berolahraga, bersosialisasi, menikmati hiburan dan tentu saja beristirahat.
Sebab, kehidupan tidak mungkin dijalani sepenuhnya dari atas kasur. Ada berbagai tujuan yang membutuhkan usaha, pekerjaan yang harus diselesaikan dan aktivitas yang mengharuskan seseorang untuk bangkit dan bergerak.
Dengan demikian, menjadi “kaum rebahan” sesekali mungkin hanya sebuah cara untuk melepas penat. Namun jika rebahan sudah menjadi alasan untuk terus menunda aktivitas, mungkin sudah saatnya meninggalkan kasur, meletakkan telepon seluler dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari.