Blitar, Paliwara– Di antara ribuan pilot tempur yang mengudara selama Perang Dunia II, nama Erich Alfred “Bubi” Hartmann menempati posisi istimewa. Pilot tempur Jerman dari Luftwaffe itu tercatat sebagai fighter ace dengan jumlah kemenangan udara terbanyak dalam sejarah peperangan udara, dengan 352 pesawat lawan yang dikreditkan berhasil ditembak jatuh.
Hartmann lahir di Weissach, Württemberg, pada 19 April 1922. Ia tumbuh dalam keluarga dokter dan sejak usia muda sudah mengenal dunia penerbangan. Ketertarikannya terhadap pesawat berkembang menjadi kemampuan menerbangkan pesawat layang sebelum akhirnya membawa dirinya masuk ke Luftwaffe.
Pada 1940, ketika Perang Dunia II berkecamuk, Hartmann bergabung dengan Luftwaffe. Setelah menyelesaikan pendidikan sebagai pilot tempur, ia dikirim ke Jagdgeschwader 52 (JG 52) di Front Timur pada 1942.
Di sanalah legenda Hartmann mulai terbentuk.
Usianya masih sekitar 20 tahun ketika pertama kali terjun dalam pertempuran udara. Sebagai pilot muda, Hartmann pada awalnya harus belajar dari pengalaman dan kesalahan. Namun, di bawah bimbingan pilot-pilot veteran JG 52, kemampuannya berkembang dengan cepat.
Hartmann dikenal tidak selalu mengandalkan duel udara jarak jauh. Ia cenderung mendekati lawan hingga jarak yang sangat dekat sebelum melepaskan tembakan. Taktik tersebut membuat serangannya efektif sekaligus memungkinkannya segera meninggalkan lokasi setelah melakukan serangan.
Pesawat Messerschmitt Bf 109 yang diterbangkannya kemudian menjadi identik dengan sosok Hartmann.
Julukan “Bubi”, yang berarti kurang lebih “anak muda” atau “si bocah”, melekat pada dirinya. Di kalangan lawan Soviet, ia juga dikenal dengan julukan “Black Devil” atau “Setan Hitam”, yang menggambarkan reputasinya sebagai pilot yang sangat berbahaya.
Sepanjang perang, Hartmann menjalankan sekitar 1.400 misi tempur dan terlibat dalam ratusan pertempuran udara. Catatan Luftwaffe memberinya kredit atas 352 kemenangan udara, terdiri dari 345 pesawat Soviet dan tujuh pesawat Amerika. Ia bahkan beberapa kali harus melakukan pendaratan darurat, tetapi catatan biografinya menyebut ia tidak pernah ditembak jatuh secara langsung oleh pesawat musuh.
Rekor tersebut menjadikannya salah satu figur paling menonjol dalam sejarah penerbangan militer.
Pada 1944, namanya semakin terkenal. Setelah mencapai lebih dari 300 kemenangan, Hartmann menerima Knight's Cross of the Iron Cross with Oak Leaves, Swords and Diamonds, salah satu penghargaan militer tertinggi Jerman pada masa itu.
Namun, di balik angka 352 kemenangan tersebut terdapat realitas perang yang jauh lebih keras. Hartmann bertempur di Front Timur, salah satu medan perang paling brutal dalam Perang Dunia II.
Menjelang berakhirnya perang, Hartmann masih terus menerbangkan pesawatnya. Pada 8 Mei 1945, tepat ketika Jerman menyerah, ia mencatat kemenangan udaranya yang ke-352. Itu sekaligus menjadi kemenangan terakhirnya.
Tak lama kemudian, Hartmann bersama unitnya menyerah kepada pasukan Amerika. Namun perjalanan menuju kebebasan belum berakhir.