nasional

Erwin Rommel, Rubah Gurun yang Disegani Musuh dan Berakhir Tragis di Tangan Rezim Hitler

Sabtu, 3 Oktober 2026 | 14:35 WIB
Ilustrasi Jenderal Erwin Rommel

Blitar, Pariwara – Nama Erwin Rommel menjadi salah satu sosok paling terkenal dalam sejarah militer Jerman pada Perang Dunia II. Jenderal yang kemudian menyandang pangkat Field Marshal itu dikenal dengan julukan “Desert Fox” atau Rubah Gurun, karena kemampuan bermanuver dan taktik perang lapangannya di Afrika Utara.

Namun, perjalanan hidup Rommel berakhir tragis. Pada Oktober 1944, jenderal yang pernah menjadi salah satu komandan paling terkenal Nazi Jerman tersebut dipaksa memilih antara menghadapi pengadilan yang hampir pasti berujung kematian atau mengakhiri hidupnya sendiri.

Rommel lahir pada 15 November 1891 di Heidenheim, Württemberg, Kekaisaran Jerman. Karier militernya berkembang pesat, terutama setelah ia menunjukkan kemampuan dalam peperangan bergerak. Pada Perang Dunia II, namanya semakin dikenal setelah memimpin Divisi Panzer ke-7 dalam invasi Jerman ke Prancis pada 1940.

Kemampuan Rommel membuatnya mendapat kepercayaan Adolf Hitler. Pada Februari 1941, ia dikirim ke Afrika Utara untuk memimpin pasukan Jerman yang kemudian dikenal sebagai Afrika Korps. Di medan gurun Libya dan Mesir, Rommel menjalankan operasi dengan manuver cepat dan serangan yang sering mengejutkan lawan.

Dari medan inilah julukan Rubah Gurun melekat. Bahkan, reputasi Rommel di kalangan lawan tidak hanya muncul karena keberhasilannya di medan perang, tetapi juga karena ia dipandang sebagai komandan yang memiliki kemampuan militer tinggi.

Meski demikian, gambaran Rommel sebagai sosok militer yang sepenuhnya terpisah dari rezim Nazi juga tidak sesederhana legenda yang berkembang setelah perang. United States Holocaust Memorial Museum mencatat bahwa hubungan Rommel dengan ideologi Nazi dan sejauh mana ia mengetahui atau mendukung kebijakan rezim tersebut masih menjadi persoalan yang diperdebatkan para sejarawan.

Karier militernya di Afrika Utara akhirnya mengalami kemunduran. Pasukan Sekutu berhasil mengalahkan kekuatan Rommel, termasuk dalam rangkaian pertempuran yang berujung pada kekalahan Jerman di Afrika Utara. Setelah itu, Rommel kembali ke Eropa dan dipercaya menangani pertahanan Jerman di Normandia.

Di tengah situasi perang yang semakin buruk bagi Jerman, posisi Rommel mulai rumit. Ia mengetahui bahwa kekuatan Sekutu semakin besar dan kondisi militer Jerman semakin sulit. Rommel juga pernah menyampaikan kepada Hitler pandangannya mengenai keadaan perang.

Situasi berubah drastis setelah 20 Juli 1944, ketika sekelompok perwira dan tokoh sipil Jerman menjalankan rencana untuk membunuh Hitler. Bom yang ditempatkan Claus von Stauffenberg di markas Hitler gagal membunuh sang Führer. Hitler selamat, sementara kudeta yang direncanakan setelah pembunuhan tersebut runtuh.

Nama Rommel kemudian ikut terseret dalam penyelidikan.

Di sinilah kisah terakhir sang Rubah Gurun menjadi tragis. Menurut United States Holocaust Memorial Museum, Rommel memang memiliki hubungan dengan beberapa tokoh yang terkait dengan konspirasi tersebut, tetapi bukti menunjukkan bahwa ia kemungkinan tidak terlibat langsung dalam perencanaan pembunuhan Hitler. Ia diduga lebih mendukung upaya menyingkirkan Hitler dari kekuasaan daripada pembunuhan terhadap Hitler.

Rezim Hitler tetap menganggap keterkaitan tersebut sebagai ancaman. Pada 14 Oktober 1944, dua jenderal datang menemui Rommel di kediamannya. Ia diberi pilihan yang sangat berat: menghadapi proses hukum atas tuduhan keterlibatan dalam konspirasi atau mengakhiri hidupnya.

Rommel akhirnya memilih bunuh diri.

Kematian tersebut kemudian ditutupi oleh rezim Nazi. Kepada masyarakat Jerman, pemerintah mengumumkan bahwa Rommel meninggal akibat luka yang dideritanya ketika kendaraan stafnya diserang pesawat Sekutu di Prancis. Padahal, kenyataannya ia dipaksa memilih jalan bunuh diri setelah namanya dikaitkan dengan jaringan konspirasi anti-Hitler.

Halaman:

Tags

Terkini