Sumber sejarah mencatat bahwa pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Candi Simping mendapat perhatian khusus. Dalam catatan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Hayam Wuruk melakukan renovasi terhadap candi tersebut pada 1285 Saka atau sekitar 1363 Masehi.
Sumber kajian sejarah juga mencatat bahwa bangunan Simping pernah mengalami kerusakan sehingga dilakukan perbaikan dan penataan kembali pada masa Hayam Wuruk.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Simping memiliki arti penting bagi lingkungan kerajaan Majapahit bahkan beberapa dekade setelah wafatnya Raden Wijaya.
Kini Tinggal Jejak
Perjalanan panjang selama berabad-abad membuat kondisi Candi Simping berubah. Bangunan yang dahulu memiliki struktur lebih lengkap kini sebagian besar telah runtuh.
Bagi sebagian orang, kondisi tersebut mungkin membuat Candi Simping terlihat sederhana jika dibandingkan dengan candi-candi lain yang masih berdiri megah.
Namun justru di situlah nilai pentingnya.
Candi Simping menyimpan cerita tentang salah satu fase paling penting dalam sejarah Nusantara, yakni masa awal berdirinya Majapahit.
Mengunjungi Candi Simping bukan hanya melihat batu-batu peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, pengunjung dapat membayangkan bagaimana sebuah kerajaan besar pernah membangun identitas dan kekuasaannya, serta bagaimana Blitar menjadi salah satu wilayah penting dalam perjalanan sejarah Majapahit.
Sejarah yang Jangan Sampai Hilang
Keberadaan Candi Simping juga menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan yang megah.
Kadang, sejarah justru tersimpan dalam reruntuhan, fragmen batu dan catatan kuno yang membutuhkan ketelitian untuk memahaminya.
Candi Simping merupakan salah satu contohnya.
Situs yang berada di Desa Sumberjati tersebut menyimpan hubungan antara Blitar, Raden Wijaya dan Majapahit. Nilainya bukan hanya bagi masyarakat sekitar, tetapi juga bagi pemahaman mengenai sejarah perkembangan kerajaan besar di Nusantara.
Candi Simping mungkin kini tinggal reruntuhan, tetapi kisah yang tersimpan di dalamnya masih jauh dari runtuh. Dari tempat inilah jejak Raden Wijaya dan awal perjalanan Majapahit masih dapat ditelusuri hingga sekarang.
Artikel Terkait
Erich “Bubi” Hartmann, Jagoan Luftwaffe dengan 352 Kemenangan dan Akhir Hidup Sang Pilot Legendaris
Apakah Kloning Berita Diperbolehkan? Ini Batas antara Adaptasi dan Menjiplak
Weton Minggu Wage: Dikenal Cerdas dan Berwibawa, tapi Punya Sifat Pencemburu
Jangan Salah Pilih Pekerjaan, Ini Bidang yang Cocok untuk Weton Minggu Wage
Jangan Asal Pilih Jodoh, Weton Minggu Wage Ternyata Cocok dengan Neptu Ini
Wujud Nyata Ketahanan Pangan, Babinsa Kelurahan Tanggung Bersama Petani Gotong Royong Perbaiki Saluran Irigasi
Post Power Syndrome, Saat Seseorang Sulit Menerima Kehilangan Kekuasaan dan Jabatan
Es Dawet Serabi Khas Blitar, Perpaduan Manis Gurih yang Cocok Disajikan Dingin
Pencak Silat Bukan Sekadar Adu Kekuatan, Ada Etika, Disiplin dan Filosofi di Baliknya
Nderes Kelapa, Tradisi Petani Mengubah Tetesan Nira Menjadi Gula Merah