nasional

Jodoh Menurut Pasaran Jawa, Benarkah Ada Pasangan yang Paling Cocok?

Selasa, 6 Oktober 2026 | 09:39 WIB
Ilustrasi perjodohan dalam hitungan jawa

Paliwara.com, - Dalam tradisi masyarakat Jawa, urusan jodoh tidak jarang dikaitkan dengan weton kelahiran, yakni gabungan antara hari lahir dan pasaran Jawa. Lima pasaran tersebut terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Masing-masing memiliki nilai neptu yang kemudian digunakan dalam perhitungan kecocokan pasangan.

Kepercayaan terhadap kecocokan weton telah diwariskan secara turun-temurun. Bagi sebagian masyarakat Jawa, perhitungan tersebut menjadi salah satu pertimbangan sebelum seseorang melangkah ke jenjang pernikahan. Tujuannya bukan sekadar mencari pasangan berdasarkan tanggal lahir, tetapi juga membaca gambaran karakter dan perjalanan rumah tangga menurut primbon Jawa.

Dalam perhitungan tradisional, masing-masing pasaran mempunyai nilai berbeda. Legi bernilai 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8. Nilai tersebut kemudian digabungkan dengan nilai hari kelahiran, yakni Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9.

Setelah neptu kedua calon pasangan dijumlahkan, hasilnya dapat dimasukkan ke dalam kategori tertentu. Dalam salah satu metode primbon Jawa dikenal istilah Pegat, Ratu, Jodoh, Topo, Tinari, Padu, Sujanan, dan Pesthi.

Jodoh menjadi salah satu kategori yang dianggap baik. Pasangan yang masuk kategori ini dipercaya memiliki kecenderungan untuk saling menerima dan mampu membangun hubungan yang harmonis.

Sementara itu, Ratu juga dianggap sebagai pertanda baik. Dalam kepercayaan tradisional, pasangan dengan hasil ini diyakini memiliki hubungan yang kuat, saling menghormati, dan berpotensi memperoleh kehidupan rumah tangga yang disegani.

Kategori Tinari dipercaya berkaitan dengan kebahagiaan dan keberuntungan dalam kehidupan rumah tangga. Sedangkan Pesthi sering dimaknai sebagai hubungan yang cenderung tenteram, stabil, dan mampu bertahan dalam menghadapi berbagai persoalan.

Namun, primbon Jawa juga mengenal hasil yang dianggap memiliki tantangan lebih besar, seperti Padu yang dikaitkan dengan potensi pertengkaran, Sujanan yang dikaitkan dengan persoalan dalam hubungan, serta Pegat yang secara tradisional dianggap memiliki tantangan dalam mempertahankan rumah tangga.

Meski demikian, hasil perhitungan tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai kepastian mengenai masa depan sebuah hubungan. Primbon merupakan bagian dari warisan budaya dan kepercayaan masyarakat Jawa, bukan metode ilmiah untuk memastikan keberhasilan sebuah pernikahan.

Pada akhirnya, kecocokan pasangan tidak hanya ditentukan oleh Legi, Pahing, Pon, Wage, atau Kliwon. Hubungan yang langgeng membutuhkan komunikasi, kepercayaan, kesetiaan, tanggung jawab, kemampuan mengendalikan emosi, serta kemauan untuk saling memahami.

Dalam filosofi sederhana, weton boleh menjadi pertimbangan, tetapi karakter dan perilaku menjadi penentu. Sebab, dua orang dengan hitungan weton yang dianggap sangat cocok pun dapat berpisah jika tidak mampu menjaga kepercayaan. Sebaliknya, pasangan dengan hitungan yang dianggap kurang baik dapat membangun keluarga harmonis apabila keduanya mampu saling menghargai dan berjuang bersama.

Tags

Terkini