nasional

Obesitas Bukan Sekadar Masalah Berat Badan, Ancaman Penyakit Serius Mengintai

Selasa, 29 September 2026 | 13:52 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami obesitas

Blitar, Paliwara.com – Obesitas selama ini masih kerap dipandang sebagai persoalan berat badan atau penampilan. Padahal, dunia kesehatan telah menempatkan obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks dan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan overweight dan obesitas sebagai penumpukan lemak tubuh yang tidak normal atau berlebihan sehingga dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan. Pada orang dewasa, indeks massa tubuh atau BMI 25 atau lebih masuk kategori overweight, sedangkan BMI 30 atau lebih termasuk obesitas. Namun, BMI merupakan alat skrining dan tidak selalu menggambarkan kondisi lemak tubuh seseorang secara sempurna.

Besarnya persoalan obesitas terlihat dari data global. WHO mencatat pada 2022 terdapat sekitar 2,5 miliar orang dewasa mengalami overweight, termasuk lebih dari 890 juta orang yang hidup dengan obesitas. Secara global, sekitar 16 persen orang dewasa mengalami obesitas pada tahun tersebut. Angka obesitas orang dewasa bahkan telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 1990.

Masalah tersebut juga tidak hanya dialami orang dewasa. Pada 2022, lebih dari 390 juta anak dan remaja usia 5 hingga 19 tahun mengalami overweight, termasuk sekitar 160 juta yang mengalami obesitas. WHO mencatat prevalensi obesitas pada kelompok usia tersebut meningkat dari sekitar 2 persen pada 1990 menjadi 8 persen pada 2022.

Di Indonesia, persoalan obesitas juga menjadi perhatian serius pemerintah. Kementerian Kesehatan RI menyebut hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan sekitar 23,4 persen orang dewasa hidup dengan obesitas. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2018 yang berada di kisaran 21,3 persen.

Bukan Sekadar Persoalan Penampilan

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa obesitas tidak seharusnya dipandang hanya dari sisi penampilan. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan perubahan metabolisme tubuh dan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular.

Risiko tersebut tidak muncul begitu saja. Jaringan lemak yang berlebihan dapat memengaruhi berbagai proses metabolisme dan memicu perubahan jangka panjang pada tubuh. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan bahwa terlalu banyak lemak tubuh dapat berhubungan dengan peradangan serta perubahan metabolik yang berlangsung lama. Risiko berbagai masalah kesehatan juga cenderung meningkat seiring bertambahnya kelebihan berat badan dan lamanya kondisi tersebut dialami.

Karena itu, obesitas tidak tepat jika hanya dilihat sebagai persoalan seseorang kurang berolahraga atau terlalu banyak makan. WHO menjelaskan bahwa obesitas merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk genetika, perilaku makan, lingkungan, akses terhadap makanan sehat, aktivitas fisik, kondisi sosial, serta lingkungan pangan yang tersedia.

Mengintai Jantung, Pembuluh Darah hingga Diabetes

Salah satu bahaya utama obesitas adalah meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. WHO menyebut overweight dan obesitas merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.

Kelebihan berat badan juga berkaitan dengan tekanan darah tinggi, kadar lemak darah yang tidak normal, serta diabetes tipe 2. Kondisi-kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan beban kerja sistem kardiovaskular dan memperbesar risiko terjadinya penyakit jantung maupun stroke.

CDC juga mencatat sejumlah kondisi yang berkaitan dengan overweight dan obesitas, antara lain hipertensi, gangguan kadar kolesterol dan trigliserida, diabetes tipe 2, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit kandung empedu, osteoartritis, sleep apnea, gangguan pernapasan, serta berbagai jenis kanker.

Risiko tersebut membuat obesitas tidak bisa dianggap sebagai persoalan jangka pendek. Semakin lama seseorang mengalami obesitas, semakin besar pula perhatian yang diperlukan terhadap kemungkinan munculnya berbagai komplikasi.

Halaman:

Tags

Terkini