Di sisi lain, pembinaan tersebut diharapkan tidak mematikan kreativitas. Potensi kesenian daerah justru perlu diberi ruang agar dapat berkembang dan menjadi bagian dari pertunjukan yang memiliki nilai budaya.
“Harapannya, ke depan ada asosiasi maupun paguyuban yang mewadahi untuk membina dancer atau penari, mengarahkan agar tidak terkesan erotis seperti anggapan publik, namun dapat memunculkan potensi-potensi kesenian daerah,” pungkasnya.
Perayaan dua tahun Faskho Sengox Audio Blitar ini menjadi momentum bagi komunitas sound horeg untuk memperluas peran di tengah masyarakat. Melalui festival amal, penyelenggara berupaya mempertemukan hiburan, solidaritas antarkomunitas, dan kepedulian sosial.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga mampu menjaga ketertiban, menghormati norma yang berlaku, serta memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Artikel Terkait
Primbon Sabtu Pahing: Berjiwa Terbuka, Ambisius, tetapi Dikenal Mudah Marah
Weton Sabtu Pahing Dipercaya Cocok Jadi Pengusaha, Neptu 18 Disebut Bawa Peruntungan Besar
Moto G67 Hadir di Indonesia, Usung Layar AMOLED 120Hz dan Harga Rp4,999 Juta
Tingkatkan Sanitasi Sehat, Babinsa Koramil 0808/11 Binangun Gotong Royong Buat Jamban Warga
Harga Cabe Rawit Merah di Jawa Timur Tembus Rp77.666 per Kg, Kota Blitar Terendah
Patroli Subuh Rutin, Polres Blitar Perkuat Komunikasi dan Pelayanan kepada Masyarakat
Polres Blitar Perkuat Sinergi dengan Petani Jagung di Desa Banggle
Pastikan Keamanan Pengunjung, Sat Samapta Polres Blitar Pantau Blitar Park
Ribuan Jamaah Padati Masjid Agung Blitar, Dzikir dan Haul Masyayikh Jadi Momentum Hari Santri
Gerindra Kabupaten Blitar Gelar Aksi Bersih Pantai Tambakrejo, Sugianto: Kepedulian Lingkungan Harus Diwujudkan dengan Aksi Nyata