Sabtu, 10 Oktober 2026

Mengapa Orang Menyebut “Anjing” Saat Marah? Bukan Sekadar Kata, tetapi Bentuk Luapan Emosi

Photo Author
Anang Agus Faisal, Paliwara.com
- Kamis, 8 Oktober 2026 | 16:11 WIB
Ilustrasi saat manusia marah
Ilustrasi saat manusia marah

Paliwara.com, – Dalam kehidupan sehari-hari, kemarahan seseorang terkadang keluar dalam bentuk kata-kata kasar. Salah satu umpatan yang cukup sering terdengar adalah menyebut seseorang dengan nama hewan, termasuk kata “anjing”.

Bagi sebagian orang, kata tersebut digunakan sebagai bentuk penghinaan ketika emosi sedang memuncak. Padahal, secara harfiah anjing merupakan hewan yang memiliki berbagai karakter positif, seperti kesetiaan, kemampuan menjaga manusia, serta kepekaan terhadap lingkungan.

Lantas, mengapa nama anjing justru digunakan sebagai kata hinaan?

Dalam konteks bahasa, penyebutan nama hewan kepada manusia dapat menjadi metafora atau bentuk peyoratif, yaitu penggunaan sebuah kata dengan makna yang sengaja direndahkan. Makna tersebut tidak selalu menggambarkan karakter hewan yang sebenarnya, melainkan terbentuk dari kebiasaan masyarakat dan sejarah penggunaan bahasa.

Ketika seseorang sedang marah, kemampuan mengendalikan emosi juga dapat menurun. Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah mengeluarkan kata-kata spontan yang bertujuan melampiaskan rasa kesal, kecewa, atau frustrasi. Kata yang dianggap kasar kemudian digunakan untuk menyerang atau merendahkan orang lain secara verbal.

Dalam konteks budaya, makna kata “anjing” sebagai umpatan juga berbeda-beda di setiap masyarakat. Di sebagian tempat, anjing dipandang sebagai sahabat manusia dan memiliki nilai positif. Namun di lingkungan budaya tertentu, penyebutan anjing terhadap manusia dapat memiliki konotasi negatif sehingga berkembang menjadi bentuk penghinaan.

Penggunaan nama hewan sebagai hinaan sebenarnya bukan hanya terjadi pada kata “anjing”. Dalam berbagai bahasa, manusia juga kerap menggunakan nama hewan seperti babi, monyet, keledai, atau tikus untuk menggambarkan seseorang secara negatif. Biasanya, karakter tertentu yang diasosiasikan masyarakat dengan hewan tersebut kemudian dipindahkan kepada manusia sebagai bentuk ejekan.

Namun, perlu dipahami bahwa hewan tidak memiliki kesalahan atas penggunaan namanya sebagai umpatan. Anjing, misalnya, memiliki kemampuan sosial yang tinggi, dapat membangun ikatan dengan manusia, serta memiliki penciuman yang sangat kuat.

Karena itu, ketika seseorang menyebut “anjing” kepada orang lain dalam kondisi marah, yang sebenarnya sedang bekerja bukanlah penilaian terhadap sifat hewan tersebut, melainkan konstruksi bahasa dan budaya yang telah berkembang di masyarakat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Kata-kata juga membawa emosi, pengalaman, nilai budaya, dan persepsi masyarakat. Sebuah kata yang sebenarnya hanya menunjuk pada seekor hewan dapat berubah menjadi simbol kemarahan ketika digunakan dalam konteks tertentu.

Pada akhirnya, kemarahan memang dapat mendorong seseorang mengeluarkan kata-kata kasar. Namun mengendalikan ucapan tetap penting karena penghinaan verbal dapat melukai perasaan, memperburuk konflik, bahkan membuat persoalan yang sebenarnya kecil menjadi semakin besar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Anang Agus Faisal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X