nasional

Haji Misbach, Santri yang Menjadi Komunis: Ketika Islam dan Pemikiran Kiri Bertemu Melawan Kolonialisme

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:07 WIB
Haji Misbach

Paliwara.com,– Sejarah pergerakan nasional Indonesia menyimpan kisah seorang tokoh yang menempuh jalan pemikiran berbeda dari kebanyakan aktivis keagamaan pada zamannya. Ia adalah Haji Mohammad Misbach, seorang mubalig berlatar belakang pendidikan pesantren yang kemudian dikenal sebagai tokoh Islam-komunis di Surakarta, Jawa Tengah.

Haji Misbach, yang lahir dengan nama Achmad pada 1876 di Kauman, Surakarta, dikenal memiliki kehidupan yang dekat dengan tradisi Islam. Ia tumbuh dalam lingkungan masyarakat religius dan memperoleh pendidikan agama di pesantren. Selain itu, ia sempat mengenyam pendidikan di sekolah bumiputra Ongko Loro.

Latar belakang tersebut membentuk Misbach sebagai sosok yang memahami ajaran Islam sekaligus memiliki perhatian terhadap persoalan sosial masyarakat. Dalam perjalanan hidupnya, ia tidak hanya berkutat pada kegiatan keagamaan, tetapi juga terlibat dalam gerakan politik dan perjuangan melawan kolonialisme Belanda.

Kisah Haji Misbach menjadi menarik karena ia kemudian memilih komunisme sebagai salah satu landasan perjuangannya. Pilihan tersebut tidak membuatnya meninggalkan identitas keislamannya. Sebaliknya, ia berusaha mempertemukan pemikiran Islam dengan gagasan kiri yang menurutnya dapat digunakan untuk melawan penindasan dan ketidakadilan sosial.

Pada awal abad ke-20, Surakarta menjadi salah satu pusat berkembangnya gerakan sosial dan politik di Hindia Belanda. Ketimpangan ekonomi, praktik kolonialisme, serta perubahan kehidupan masyarakat mendorong munculnya berbagai organisasi pergerakan.

Haji Misbach mulai terlibat dalam dunia pergerakan melalui Sarekat Islam pada 1912. Ia kemudian aktif dalam sejumlah organisasi lain dan menggunakan media massa untuk menyampaikan gagasannya kepada masyarakat.

Melalui surat kabar Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, Misbach mengkritik kolonialisme, ketidakadilan sosial, dan kelompok-kelompok yang dinilainya tidak sungguh-sungguh membela rakyat.

Baginya, perjuangan tidak cukup hanya berbicara mengenai moralitas dan kesalehan individu. Ajaran agama juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menghadapi kemiskinan, penindasan, dan ketimpangan yang dialami masyarakat pribumi.

Aktivitas jurnalistik tersebut menjadikan Misbach salah satu tokoh pergerakan yang menggunakan tulisan sebagai sarana membangun kesadaran politik rakyat.

Perkenalan Misbach dengan pemikiran komunis berkembang di tengah meningkatnya aktivitas gerakan kiri di Hindia Belanda. Ia kemudian menggunakan analisis Marxisme untuk memahami hubungan antara kolonialisme, kapitalisme, dan penderitaan rakyat.

Misbach melihat adanya titik temu antara gagasan perlawanan terhadap penindasan dalam pemikiran kiri dan ajaran Islam yang menekankan keadilan sosial. Dari sudut pandangnya, perjuangan melawan ketidakadilan ekonomi merupakan bagian penting dari pengamalan nilai-nilai agama.

Pemikiran tersebut membuatnya berbeda dari sejumlah tokoh Islam pada masa itu yang menolak komunisme karena perbedaan ideologi dan pandangan keagamaan.

Namun, pemahaman Misbach mengenai komunisme tidak sepenuhnya sama dengan pemikiran seluruh tokoh komunis. Ia berusaha membangun penafsiran sendiri dengan menempatkan identitas Muslim dan perjuangan kelas dalam satu kerangka perlawanan terhadap kolonialisme.

Penelitian Beky Frisca Andriani dalam Karmawibangga: Historical Studies Journal menguraikan bahwa Haji Misbach berupaya menyandingkan Islam dan komunisme sebagai dasar perjuangan melawan kapitalisme yang berkaitan dengan penjajahan.

Halaman:

Tags

Terkini