Blitar, Paliwara.com - Perang Dunia II tidak hanya meninggalkan catatan tentang pertempuran antara pasukan, senjata, dan strategi militer. Di sejumlah medan perang, alam juga menjadi bagian dari ancaman yang harus dihadapi para prajurit. Salah satu kisah paling terkenal terjadi di Pulau Ramree, Burma—wilayah yang kini menjadi bagian dari Myanmar—pada awal 1945.
Pertempuran tersebut kemudian dikenal sebagai Battle of Ramree Island atau Pertempuran Pulau Ramree. Peristiwa ini menjadi terkenal bukan hanya karena pertempuran antara pasukan Sekutu dan tentara Kekaisaran Jepang, tetapi juga karena munculnya cerita tentang tentara Jepang yang masuk ke kawasan rawa bakau yang dihuni buaya air asin dalam jumlah besar.
Wikipedia mencatat bahwa Pertempuran Pulau Ramree berlangsung pada Januari hingga Februari 1945 sebagai bagian dari serangan Sekutu di front selatan Kampanye Burma. Pulau Ramree memiliki posisi strategis karena Sekutu ingin menguasainya untuk mendukung pembangunan pangkalan udara dan operasi militer berikutnya. Pada saat itu, pulau tersebut masih berada di bawah pendudukan Jepang.
Pasukan Jepang yang bertahan di Ramree kemudian menghadapi tekanan militer dari pasukan Inggris dan India. Pertempuran berlangsung selama beberapa pekan sebelum posisi Jepang semakin terdesak. Ketika pertahanan mereka mulai runtuh, sebagian tentara Jepang berusaha meninggalkan posisi pertahanan dan mencari jalan keluar melalui kawasan rawa-rawa bakau.
Di sinilah kisah yang kemudian menjadi salah satu cerita paling mengerikan dari Perang Dunia II itu bermula.
Kawasan mangrove di Ramree dikenal sebagai habitat buaya air asin. Ketika para tentara Jepang masuk ke wilayah tersebut, mereka tidak hanya menghadapi pasukan Sekutu, tetapi juga medan yang sangat sulit, kekurangan air tawar, penyakit, kelaparan, serta keberadaan hewan liar.
Pada 24 Februari 1945, kantor berita Reuters dilaporkan memberitakan bahwa tentara Jepang yang berusaha melarikan diri dari Pulau Ramree terdorong keluar dari rawa karena kelaparan dan banyak yang disebut tewas akibat serangan buaya. Berita tersebut kemudian menjadi salah satu dasar berkembangnya cerita tentang “pembantaian buaya” di Ramree.
Cerita tersebut semakin terkenal setelah naturalis Kanada sekaligus veteran Kampanye Burma, Bruce Wright, menuliskan kisah mengenai kondisi para tentara Jepang di kawasan rawa dalam bukunya Wildlife Sketches Near and Far yang diterbitkan pada 1962.
Menurut versi Wright, malam ketika para tentara Jepang berada di rawa menjadi sangat mengerikan. Suara tembakan, teriakan dan kondisi gelapnya kawasan mangrove disebut bercampur dengan keberadaan buaya. Wright kemudian menyebut bahwa dari sekitar 1.000 tentara Jepang yang memasuki rawa, hanya sekitar 20 orang yang ditemukan hidup.
Kisah tersebut kemudian dikutip dan diulang dalam berbagai buku mengenai hewan berbahaya. Bahkan, cerita Ramree sempat masuk ke dalam Guinness Book of World Records sebagai salah satu serangan hewan paling mematikan yang pernah tercatat.
Namun, semakin jauh kisah tersebut diteliti, semakin besar pula pertanyaan mengenai seberapa banyak tentara Jepang yang benar-benar tewas karena dimakan buaya.
Wikipedia mencatat adanya perbedaan antara cerita populer dengan penelitian sejarah yang lebih baru. Sejarawan Frank McLynn mempertanyakan penafsiran bahwa buaya menjadi penyebab utama kematian para tentara Jepang. Pada 2016, sejarawan Sam Willis juga dilaporkan menemukan dokumen yang menunjukkan bahwa sebagian besar tentara Jepang kemungkinan meninggal karena tenggelam dan tembakan, sementara buaya mungkin memakan jasad yang telah meninggal.
Penelitian herpetologis yang dilakukan Steven Platt dan sejumlah peneliti lainnya juga memberikan gambaran berbeda. Dalam penelitian tersebut, Platt mendatangi Pulau Ramree dan mewawancarai penduduk yang masih hidup dan mengalami masa perang. Mereka tidak menemukan dukungan terhadap klaim bahwa ratusan tentara Jepang dimangsa buaya.
Menurut keterangan para informan yang diwawancarai, tentara Jepang yang mundur memang masuk ke kawasan rawa mangrove. Namun, mereka menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks. Persediaan makanan cepat habis, air tawar sulit diperoleh, sementara penyakit dan kondisi lingkungan memperburuk keadaan.