Blitar, Paliwara – Ungkapan “rezeki sudah tertakar dan tidak akan tertukar” kerap menjadi pengingat bagi seseorang agar tidak terlalu cemas menghadapi kehidupan. Setiap manusia memiliki jalan, waktu dan bagian rezekinya masing-masing. Apa yang menjadi bagian seseorang diyakini tidak akan berpindah kepada orang lain.
Perjalanan mendapatkan rezeki memang tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada kalanya seseorang telah bekerja keras, berusaha dari pagi hingga malam, tetapi hasil yang diharapkan belum juga datang. Di sisi lain, ada orang yang tampak mendapatkan kemudahan ketika peluang datang tanpa diduga.
Kondisi tersebut sering kali membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Padahal, ukuran keberhasilan dan waktu datangnya rezeki setiap orang tidak selalu sama.
Ada sebuah perumpamaan sederhana yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Rezeki bisa diibaratkan seperti keinginan untuk buang air besar. Ketika tubuh memang sudah waktunya, dorongan itu akan muncul dengan sendirinya. Namun, ketika waktunya belum tiba, sekeras apa pun seseorang memaksa, hasilnya belum tentu keluar.
Begitu pula dengan rezeki. Manusia tetap harus berusaha, bekerja, mencari peluang dan menjalankan tanggung jawab. Tetapi hasil akhir tidak selalu datang sesuai dengan jadwal yang dibuat sendiri.
Perumpamaan tersebut bukan berarti manusia cukup menunggu tanpa melakukan apa-apa. Justru usaha menjadi bagian penting dalam perjalanan memperoleh rezeki. Yang perlu dihindari adalah kecemasan berlebihan karena melihat pencapaian orang lain.
Seseorang mungkin melihat temannya sudah memiliki rumah, kendaraan, usaha yang berkembang atau jabatan yang tinggi. Sementara dirinya masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perbedaan tersebut tidak otomatis berarti seseorang gagal dalam menjalani kehidupan.
Rezeki juga tidak selalu berbentuk uang. Kesehatan, keluarga, sahabat, kesempatan, ilmu, pekerjaan, ketenangan hati hingga kemampuan melewati berbagai persoalan juga dapat menjadi bentuk karunia yang sering tidak disadari.
Karena itu, bekerja keras dan bersabar dapat berjalan beriringan. Manusia berusaha sebaik mungkin, sementara hasilnya diterima dengan lapang dada.
Pada akhirnya, ungkapan “rezeki sudah tertakar dan tidak akan tertukar” mengajarkan satu hal sederhana: jangan terlalu sibuk menghitung milik orang lain sampai lupa mensyukuri apa yang sudah dimiliki.
Jika memang belum waktunya, bukan berarti rezeki itu tidak ada. Bisa jadi seseorang masih berada dalam proses menuju waktu yang tepat.
Seperti halnya tubuh yang memiliki waktunya sendiri ketika hendak buang air besar, kehidupan pun memiliki proses dan waktunya masing-masing. Memaksakan sesuatu yang belum waktunya justru dapat membuat seseorang lelah.
Yang dapat dilakukan manusia adalah terus berusaha, menjaga kejujuran, memperbanyak rasa syukur dan tidak berhenti memperbaiki diri. Sebab, rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang diperoleh, tetapi juga bagaimana seseorang menerima, menggunakan dan mensyukuri apa yang telah diberikan kepadanya.